Sarjana Non-Kependidikan, Sanggupkah Menjadi Seorang Guru?

Dunia pendidikan kembali dikagetkan dengan adanya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak permohonan pengujian  pasal 9 Undang-undang no.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Keputusan tersebut menyatakan bahwa sarjana non-kependidikan bisa menjadi guru atau dosen. Pasal 9 berbunyi “Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat”. Di mana pada pasal 8 berbunyi “Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Penolakan pengujian terhadap pasal 9 menimbulkan akibat bahwa sarjana non-kependidikan dapat diangkat menjadi guru atau dosen.

Dalam pertimbangannya, MK menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapat penghidupan yang layak. Sesuai dengan pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 berbunyi “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.” Atas dasar itulah MK menetapkan keputusan bahwa sarjana non-kependidikan dapat diangkat menjadi guru. Sehingga tidak hanya lulusan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) saja yang dapat menjadi seorang guru.  Namun MK juga menegaskan bahwa sarjana non-kependidikan harus memenuhi syarat-syarat peraturan perundang-undangan.

Ditetapkannya keputusan ini menimbulkan beberapa pertanyaan terkait kenyataan selama ini di dunia pendidikan. Pertama, apakah MK merasa bahwa tidak ada lagi sarjana kependidikan yang mampu menjadi guru atau dosen profesional? Kedua, apakah sarjana non-kependidikan mampu menjadi seorang guru profesional?

Pendidikan di Indonesia hampir selalu mendapat reputasi buruk dengan adanya berbagai kasus seperti kacaunya ujian nasional, perilaku buruk dari seorang guru kepada siswanya, serta ketidakpuasan orang tua terhadap kemampuan akademik maupun non-akademik anaknya. Tentunya, guru menjadi sorotan utama dalam berbagai kasus tersebut, meskipun pasti ada oknum-oknum di belakang itu semua. Kemudian berbagai kritikan orang tua terhadap guru pun sering terlontar. Pintar atau bodoh menjadi cap utama orang tua melihat kemampuan anaknya. Jika nilai-nilai pelajarannya jelek, maka pertanyaan orang tua adalah “Apakah guru yang mengajar menguasai materi ajar dan mampu mengajar ataukkah tidak?”. Melihat berbagai permasalahan di dunia pendidikan, apakah MK lantas berpikir bahwa sarjana pendidikan tidak mampu lagi menjadi guru profesional. Padahal tidak semua guru melakukan hal buruk. Masih banyak guru berprestasi dan bahkan mengharumkan bangsa Indonesia. Ada juga guru yang membimbing siswanya untuk mengikuti berbagai kompetisi di tingkat Nasional maupun Internasional.

Permasalahan kedua tentang sarjana non-kependidikan dapat menajdi guru adalah mereka memang menguasai materi. Bahkan mungkin lebih baik dari seorang sarjana kependidikan. Ini dikarenakan mereka mempelajari secara khusus ilmu-ilmu murni. Namun selama belajar, mereka tidak dipersiapkan untuk menjadi seorang guru. Sehingga dalam studinya, sarjana non-kependidikan tidak mendalami apa itu kurikulum, bagaimana proses pembelajaran, proses evaluasi terhadap siswa, serta metode belajar dalam menyampaikan materi. Jadi, serasa percuma jika seseorang hanya menguasai bidang ilmu pengetahuan saja tanpa memiliki penguasaan dalam penyampaian materi. Selain itu, seorang guru tidak hanya berkewajiban sebagai pengajar, namun juga seorang pendidik. Bagaimana nanti seorang siswa berbudi luhur.

Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, 1889 – 1959) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti ( karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”. Salah jika seorang guru ataupun dosen sekalipun berpikir bahwa kewajiban mereka hanya sebagai pengajar. Sesungguhnya tugas mereka sangatlah besar. Guru dan dosen adalah pendidik. Pendidik berkewajiban membuat siswanya menguasai ilmu pengetahuan dan mendidik siswanya menjadi seorang yang berbudi pekerti luhur serta mampu berselaras dengan alam dan masyarakat.

Apabila profesi guru dan dosen hanya diliat dan dikejar sebagai jalan memperoleh penghidupan, maka keputusan MK tersebut tidak berarti apa-apa. Pendidikan membutuhkan sosok pendidik yang mampu dan mau bekerja keras demi anak didiknya. Ketakutan sarjana pendidikan terhadap keputusan MK sudah selayaknya dihilangkan. Pemikiran untuk bersaing dengan sarjana non-kependidikan untuk mendapat lapangan pekerjaan sepertinya memang diperlukan. Supaya mereka alumni berijazah pendidikan benar-benar berkualitas, baik dari segi bidang ilmu pengetahuan, maupun kemampuan paedagogik sebagai seorang guru.

Dengan berbagai sumber:

Advertisements

LTM Fair, Dosen Uji Kemampuan Mengajar Mahasiswa

Suasana lain nampak di lantai 3 dan 4 di gedung N. Terlihat banyak mahasiswa berkumpul bersama dalam kelompok-kelompok kecil sedang mempersiapkan alat peraga. Beralaskan karpet sederhana mereka menghias “tempat” kecilnya. Bahkan sekelompok mahasiswa memakai hias kepala sesuai tema alat peraga yang diusungnya. Mereka sedang mengikuti “Language Teaching Media” (LTM) Fair (Pameran Media Pembelajaran Bahasa) pada Selasa (30/4).

alat peraga1.jpg

Fajar Kartika, SS MHum, selaku dosen pengampu mata kuliah Language Teaching Media (Media Pembelajaran Bahasa) mengungkapkan bahwa pameran alat peraga tersebut diselenggarakan dengan tujuan untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam membuat media pembelajaran bahasa. Setiap dua kali pertemuan kelas akan dilakukan uji kompetensi. “Mahasiswa diarahkan untuk mampu menentukan media pembelajaran sesuai materi ajar, sehingga ketika membuat media, penggunaannya bisa sangat efektif,” jelasnya.

Mata kuliah LTM ini diikuti oleh mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Inggris (Prodi PBI) semester IV. Kali ini pameran media pembelajaran diisi oleh dua kelas. Acara menjadi bentuk penilaian atau tolak ukur kemampuan mahasiswa untuk uji kompetensi.

Dalam acara yang berlangsung selama sekitar lima jam ini, setiap kelompok yang terdiri tiga mahasiswa mempresentasikan media pembelajaran sesuai materi ajar. Masing-masing anggota memiliki tugas, yakni menguasai uraian materi, menggambarkan media, dan mendemonstrasikan penggunaan media.

Setiap kelompok mendapat materi ajar yang ditentukan oleh dosen. Materi antara lain adalah spoof, present tense, modality, question tag, passive voice, recount, perfect tense, past tense, dan descriptive. Kelompok membuat media yang tempat untuk menyampaikan materi di atas.

Penilaian paparan kelompok dilakukan oleh tiga dosen yaitu Fajar Kartika, SS MHum, Rusiana, MPd serta seorang dosen pendukung dari tiap-tiap kelompok.

Konsep tersebut, ungkap Fajar, pada awalnya direspon negatif oleh mahasiswa. Mereka keberatan. Namun begitu, menurutnya, penampilan dan presentasi peserta acara lebih dari yang diharapkannya. “Ternyata, akhirnya mahasiswa menikmati acaranya,” ujarnya.

presentasi.jpg