Ladang dalam Balutan Adat

Indonesia sungguh dikaruniai tanah yang subur. Di mana kita menanam tanaman, di situlah kelak akan diunduh hasilnya. Wilayah Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua masih menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Pada tulisan kali ini, Pulau Flores menjadi sorotan lebih terkait sumber daya alam yang tersimpan di sana. Pulau Flores menjadi bagian dari provinsi Nusa Tenggara Timur dengan 10 kabupaten; Manggarai Barat, Manggarai Raya,Manggarai Timur, Ngada, Nagakeo, Ende, Sikka, Kota Sikka, Flores Timur, dan Lembata.

Bentang alam Pulau Flores berupa perbukitan dan dataran tinggi. Pulau Flores pun dikaruniai tanah subur. Komoditas utamanya berupa kemiri, kopi, coklat dan cengkeh. Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Keadaan ini juga berlaku di Ende. Mereka yang hidup di daerah dataran tinggi hampir keseluruhan memiliki lahan. Masyarakat di sana mendapatkan lahan garapan secara turun temurun. Karena mereka masih memegan kuat adat istiadat tentang seorang Mosalaki atau pemuka adat. Seorang Mosalaki adalah tuan tanah dari wilayah yang dikuasainya. Hampir di semua kampong, masyarakat Flores masih menaati aturan-aturan adat yang berlaku.

Sebagai contoh, kita dapat melihat masyarakat di Kecamatan Detukeli, tepatnya di sebuah kampung bernama Wolobetho, Desa Kebesani. Meskipun berprofesi sebagai guru maupun pegawai, mereka tetap memiliki tugas untuk merawat kebun. Cara masyarakat berladang pun tergolong unik dan sederhana. Dimulai dari mengosongkan dan mempersiapkan lahan selama 6 tahun. Kemudian menanam tanaman seperti kemiri, kopi, coklat, dan cengkeh sesuai masa tanamnya. Semua tanaman dirawat sepenuhnya oleh alam. Masyarakat tidak member pupuk dan bahkan menyiangi rumput-rumput liar. Lahan pun ditumbuhi macam-macam tanaman; ada kemiri, kopi, jagung, ubi kayu, terong, coklat dan masih banyak lagi tanaman lainnya. Meskipun hasil yang didapat tidak akan sebanyak jika tanaman homogen yang ditanam dalam satu lahan.

Ketaatan masyarakat terhadap adat sangat kentara di saat mereka berladang. Setiap masa tanam, akan diadakan sebuah upacara adat bernama Nggua dan sebuah larangan bernama Pire Te’u. Apabila tidak dilakukan, maka semua tanaman akan diserang hama tikus. Bahkan pada Pire Te’u, masyarakat diharuskan menaati aturan adat seperti dilarang memegang dedaunan secara sengaja, menggali lubang di tanah, mempercantik diri di dalam rumah dan menjemur pakaian di luar rumah. Jika dilanggar, konon tikus tidak segan-segan merusak tanaman di lading, namun juga semua perabot rumah dan pakaian terkena imbasnya. Kemudian ketika masa panen, upacara adat bernama Keti Uta akan dilaksanakan. Menurut kepercayaan masyarakat, hasil kebun akan berlimpah dan sanggup digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Melimpahnya hasil kebun tidak cukup dengan mengadakan ritual adat, mereka harus menaati pula aturan-aturan yang berlaku. Seperti halnya ketika memanen padi. Batang padi tidak boleh dibabat secara bersama, melainkan harus dipotong satu persatu. Kemudian mereka juga dilarang merontokkan bulir padi dengan gilingan. Mereka harus menginjak-injak batang padi untuk merontokkannya. Kepercayaan mereka terhadap aturan ini tidak lain supaya hasil dari panen padi melimpah.

Prinsip masyarakat untuk berkebun masih sekadar agar mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Seorang warga, Mama Rita, menuturkan bahwa ketika ia memanen hasil kebun, hal paling penting adalah berbagi dengan keluarga dan tetangga. Memang, ikatan kekeluargaan di antara masyarakat sangatlah kental. Jadi, ketika masa panen dimulai, seperti ada sebuah barter antara satu orang dengan lainnya.

Masyarakat taat adat inilah pasukan penjaga alam. Mereka tidak serakah dalam menggunakan lahan. Karena pembagian lahan kebun telah diturunkan secara turun temurun dan kewajiban bagi mereka untuk merawatnya. Mereka begitu menghargai alam sekitar karena dari sanalah kebutuhan hidup terpenuhi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s