“Kemerdekaan” di Tanah Detukeli

Upacara kemerdek11082014aan memang sudah selesai. Setiap tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia selalu diwarnai kemeriahan merah – putih. Hanya itu saja kah? Selama 69 tahun merdeka, kita “hanya” melakukan seremoni rutin di lapangan. Mungkin sudah terlambat juga jika bercerita tentang seremoni spesial ini. Tapi tak apalah, toh setiap waktu selalu ada cerita berbeda. Meski esensinya sama.

Entah rasa excited berlebihan atau tiba – tiba jiwa nasionalis muncul, hari itu (17/08) semangat upacara menggebu. Padahal untuk mencapai lapangan di Kantor Desa Kebesani, dibutuhkan waktu 45 menit berjalan kaki naik turun. Apabila dihitung, yah mungkin sekitar 4 – 5 km. Jauh? Entah rasa jauh – dekat terasa sama saja.

Pukul 11.04 WITA, dimulai gladi bersih mempersiapkan upacara. Peserta upacara berasal dari siswa SD Inpres Feoria, SD Katolik Gaibhabha dan SMK Negeri 6 Ende. Selain itu hadir pula perwakilan masyarakat Dusun Nua Pu, Feoria, dan Gaibhabha. Sepuluh menit kemudian, upacara dimulai. Khidmat dan khusyuk sekali. Sirine Megaphone dan sepeda motor digunakan sebagai tanda kebesaran. Berselang satu jam kemudian upacara selesai.

Ada sebuah kebiasaan unik di desa ini. Sebuah desa bernama Kebesani terletak di Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, Flores – Nusa Tenggara Timur. Bahkan hampir semua desa di kecamatan ini selalu mengadakan makan bersama seusai upacara berlangsung. Kebersamaan masyarakat adalah prioritas utama di setiap aktivitas. Di saat makan bersama, semua orang akan makan dengan menu yang sama.

Di sela – sela waktu makan, seorang Pastor membuka perbincangan tentang arti kemerdekaan. Beliau berkata dulu memang musuh kita adalah Belanda, namun sekarang musuh kita ialah isolasi. Hal ini diibaratkan dengan letak Desa Kebesani sebagai pintu gerbang memasuki Kecamatan Detukeli. Kecamatan ini merupakan satu – satunya kecamatan tanpa listrik selama bertahun – tahun. Akses jalan rusak, berlubang di mana – mana. Beliau mengibaratkan “Bagaimana seseorang bisa masuk rumah dengan nyaman jika ruang tamu masih kotor. Tentu sebagai tamu tidak akan mampu berlama – lama menghabiskan waktu di rumah tersebut. Seperti halnya desa ini yang masih dilalui jalan rusak.

Kemudian, masalah kemerdekaan selanjutnya ialah ekonomi. Pastor menambahkan senjata masyarakat di masa kemerdekaan sekarang ini adalah kopi. Ya, kopi sebagai komoditas utama warga di desa ini sebaiknya mampu dikembangkan lebih baik. Bagaimana supaya kopi – kopi ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Bahkan mungkin lebih baik jika diolah menjadi produk selain kopi biji ataupun kopi bubuk.

Secara sederhana, arti dari sebuah kemerdekaan ialah bebas. Bebas dari penjajah, bebas menjadi Negara berdaulat dan bebas menjalankan roda Pemerintahan. Coba tengok sekali lagi, masihkah kita bebas mendapat supply bahan makanan? Beras sebagai makanan pokok, masihkah kita menghasilkannya tanpa mendatangkannya dari negara lain? Darimana asalnya bawang merah dan bawang putih selama ini? Yakin kita bebas?

Pikirkanlah lebih baik lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s