Oto, Mainan Ala Detukeli

Musim libur bagi kami yang mengajar di pelosok desa tidak akan diisi dengan kegiatan bermanja ria seperti menonton televisi, pergi belanja ataupun bermain internet sampai puas. Kami harus menahan itu semua. Mau bagaimana lagi? Listrik saja belum masuk ke kampung. Oh bukan, lebih tepatnya listrik belum masuk ke kecamatan. Tapi saya tidak akan mendeskripsikan lebih jauh tentang keterbatasan yang ada. Kami menikmatinya. Cobalah hilangkan bayangan keterbatasan mulai sekarang. Sudah bukan saatnya untuk mengasihani mereka. Sebab mereka bahkan terlampau semangat daripada kalian.

Anak-anak mengisi liburan dengan membantu orang tua di kebun. Ada yang menggembala, mengangkut rumput dengan kuda, memetik kopi, meniti (memukul) kemiri, dan bermain oto. Oto? Ya, oto mainan tentunya. Oto dalam bahasa mereka diartikan sebagai kendaraan mobil empat dan selebihnya. Pokoknya oto adalah sebutan mereka untuk mobil, truk dan pick up.

Mainan 'Oto' Anak Ende

Mainan ‘Oto’ Anak Detukeli  (Doc. Megantara Afifa)

Kala itu, saya bersama 3 orang teman mengunjungi desa lain di Watunggere. Di sana ada 3 orang kawan kami bertugas mengajar di SMP Negeri Detukeli. Kampung mereka lebih ramai daripada kampungku, karena jumlah penduduknya pun lebih banyak. Terlihat banyak anak bermain di halaman dan di sepanjang jalan. Kegiatan yang mereka lakukan beragam. Ada yang bermain roda bekas, berlarian dan bermain air yang mengalir dari pipa bambu. Mungkin kamu akan heran melihat anak-anak bermodal ban bekas dan tongkat kayu (tidak cukup panjang, ± 60-100 cm). Mereka akan menggelindingkan ban bekas dan berlarian mengejarnya. Supaya bisa berjalan jauh, mereka dorong ban tersebut menggunakan tongkat kayu. Tongkat yang digunakan lebih banyak dihasilkan dari batang bambu, sebab daerah kami masih menyimpan pohon bambu begitu banyak di pinggir jalan dan jauh di dalam hutan.

Ada satu pemandangan menarik, ketika saya melihat sekelompok anak memegang sebuah tongkat panjang dengan dua roda kecil di bawah. Mereka menyebutnya oto. Cara membuatnya cukup mudah, hanya perlu sebuah tongkat dari kayu atau bambu yang panjang tetapi disesuaikan juga dengan tinggi badan si anak. Kemudian di bagian bawah pasang 2 roda kecil. Uniknya mereka memanfaatkan benda di sekeliling. Roda dibuat dari sandal bekas yang dipotong berbentuk lingkaran, bisa juga dari bekas sepeda roda tiga. Tidak butuh waktu lama untuk membuat, sebab orang tua mereka, terutama kaum laki-laki sangat piawai membuat berbagai macam barang menggunakan bambu. Kaum laki-laki terbiasa memotong bambu dan mengubahnya menjadi barang berguna. Bahkan dinding rumah terbuat dari batang bambu yang dipipihkan kemudian dijemur hingga kering.

Setiap anak, mulai usia SD hingga SMP pasti mempunyai mainan ini. Oto buatan mereka tidak hanya berfungsi sebagai alat mainan saja. Di mana biasanya mereka akan berlomba lari dan siapa yang paling cepat mencapai finish, itulah pemenangnya. Permainan oto ini bisa dilakukan di jalan maupun lapangan. Maklum saja jalanan di desa mereka tidak seramai di kota maupun desa-desa di Jawa. Oto mereka gunakan sebagai “pesawat sederhana”. Khususnya bagi siswa yang rumahnya jauh dengan sekolah, biasanya akan tinggal di rumah saudara atau asrama supaya lebih dekat dengan sekolah. Di saat mereka pulang kampung, para orang tua memberi uang saku berupa barang. Misalnya beras, pisang, kemiri, jagung dan sayur-sayuran. Nah, untuk mengurangi beban yang ditopang masing-masing barang, mereka menaruhnya di oto tadi. Jadi jangan heran jika di sekolah pun “terparkir” rapi oto-oto mereka. Sepulang sekolah sepatu mereka lepas dan berjalan dengan sandal atau tanpa alas karena khawatir rusak. Jalan yang harus mereka tempuha bukanlah aspal mulus, melainkan jalan berbatu yang akan berlumpur di saat musim hujan. Sepatu mereka gantung di oto yang dibawanya. Tak jarang pula terlihat pemandangan tas ransel pun mereka gantung di oto. Kemudian mereka berlarian mengejar teman-temannya di depan. Perjalanan pulang yang seharusnya begitu jauh jadi terasa dekat dan menyenangkan.

“Kami tidak perlu menenteng bawaan yang berat, karena ada oto. Kami bisa menaruhnya di sana,” ucap Reginius Lawa, anak berbaju biru paling tinggi.

Oto bisa digunakan pula untuk mengambil air di mata air. Desa Watunggere merupakan wilayah yang kekurangan air. Tidak banyak mata air muncul di daerah ini. Bak penampungan paling besar berjarak 2 km dengan jalan berliku dan cukup curam. Warga harus mengantri untuk mengambil air di sana. Tak heran jika setiap pagi banyak warga mandi beramai-ramai di bak penampungan itu. Siang harinya, para mama akan mencuci baju. Nah di sore hari waktunya anak-anak mengambil air menggunakan jerigen 5 liter. Mereka pun lagi-lagi menggunakan oto sebagai alat bantu agar tak terasa berat membawanya.

Alat ini digunakan untuk mengambil air

Alat ini digunakan untuk mengambil air (Doc. Megantara Afifa)

Sebuah alat bermain yang sederhana namun begitu bermanfaat. Sesederhana cara mereka menjalani kehidupan yang kata orang “kota” penuh dengan keterbatasan. Bukan itu sebenarnya. Bahkan kami pun menyadari bahwa dari merekalah kami belajar tentang hidup dan kehidupan. Bagaimana untuk belajar menghargai alam dan tak “neko-neko”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s