News

Merayakan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus (BEM FKIP UMK) mengajak mahasiswa mengajar anak-anak jalanan di lapangan Simpang Tujun Kudus pada Kamis (02/05) malam. Kegiatan bertajuk “Pendidikan untuk Semua” ini merupakan bentuk keperdulian kepada negeri. Anak jalanan dinilai sebagai bagian penting masa depan Indonesia.
“Adalah kenyataan bahwa anak-anak jalanan biasa diabaikan dan kurang mendapat hak terutama menyangkut pendidikan. Padahal mereka membutuhkan pendidikan karena melalui pendidikan pula seseorang mendapat ilmu pengetahuan serta mengubah perilaku,” ujar Ketua Panitia, Suciani Rahmah mengutarakan latar belakang kegiatan.
Diakuinya, sebagian besar anak jalanan yang datang pada malam kegiatan tersebut telah bersekolah. Meski begitu, perilaku negatif yang masih melekat dalam diri mereka perlu mendapat perhatian.
Mengenai background perserta, sambungnya, mereka adalah anak jalanan yang hidup di daerah belakang Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kudus. Sehabis pulang sekolah, biasanya mereka langusng pergi mengamen di jalan-jalan. Profesi sama juga dijalani orang tua mereka, ngamen.
Kegiatan “Pendidikan untuk Semua” ini sebenarnya menjadi program rutin BEM FKIP bernama Education for Children (EFC) setiap Sabtu malam pukul 19.00 – 21.00 WIB. EFC ini merupakan bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat kurang mampu.

Suci, begitu panggilannya, menuturkan bahwa perbedaan EFC dan kegiatan “Pendidikan untuk Semua” terdapat pada bentuk acaranya. EFC biasanya diselenggarakan lebih formal dan lebih banyak membahas materi pelajaran dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Sedangkan pada acara ini, anak-anak diajarkan berbagai lagu Nasional serta lagu daerah.
Sebanyak 50 mahasiswa UMK turut serta dalam kegiatan ini. Kehadiran mereka disambut antusias oleh anak-anak jalanan.
Diakui oleh mahasiswa peserta kegiatan bahwa mengajar anak-anak jalanan tidaklah mudah. Mereka sangat berbeda dari anak pada umumnya. Anak jalanan itu memiliki percaya diri tinggi, sangat aktif, susah diatur, berlaku seenaknya sendiri. Bahkan sempat terdengar kata-kata kotor terlontar dari mulut mereka. “Namun kami yakin, perlahan-lahan mereka akan memiliki sifat baik,” ujar Suci.
Ia mengungkapkan, ada tantangan besar ketika mengajar anak jalanan. Kegiatan mengajar anak jalanan akan terus berlanjut melalui EFC. Harapannya, semua anak mendapatkan hak yang sama dalam hal pendidikan. Pasalnya, pendidikan sangat menentukan maju atau mundurnya negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s