Teruntuk Lelaki Hebatku

Dear Ayah,

Aku rasa kerutan di wajahmu semakin bertambah

Garis-garis itu tampak begitu jelas, dan

Aku yakin Engkau tak mampu lagi menyembunyikannya dariku

Tanganmu yang dulu mengayun jemari kecilku

Tampak tak bersemangat

Meskipun senyummu selalu merekah, tapi

Entah, aku selalu berpikir bahwa aku belum menjadi yang terbaik

Dan aku menjadi semakin yakin saat pertanyaan itu datang

Maaf, aku belum bisa memberi jawaban

Di saat para ayah seusiamu bisa bermain dengan cucunya

Apalah aku yang bahkan menggandeng lelaki separuh hidupku pun belum kulakukan

Ah, aku tahu ayah

Di seperempat abad usiaku kini harusnya aku hidup bersama orang lain

Dia yang menemaniku sampai menua

Dia yang aku ajak bermain di sisa usiaku

Aku tidak bisa memberimu janji apapun

Hanya, aku akan membawakanmu seseorang yang terbaik

Tunggulah aku ayah

Tunggu aku untuk membahagiakanmu

my-dad-my-hero-quote-1

 

 

Oto, Mobilisasi Warga di Pelosok Negeri

Berbicara tentang keterbatasan, rasanya kurang pas jika dibahas terus-menerus. Mau bagaimana lagi? Inilah yang masih dan sedang dialami di banyak daerah Indonesia. Kalimantan dengan perahu untuk menyeberang sungai-sungai besar, Papua dengan pesawat perintisnya untuk berpindah dari distrik terdalam menuju kota dan Flores dengan oto sebagai alat transportasi masyarakat desa menuju kota.

Oto, adalah sebuah truk dengan modifikasi tertentu dan dijadikan transportasi publik di Flores. Oto bisa ditemui di hampir semua kabupaten. Bentuknya masih berupa truk, namun bagian bak diberi atap dengan tiang kayu dan samping kiri dan kanan terdapat terpal terlipat. Terpal ini berfungsi sebagai jendela ketika hujan tiba, supaya penumpang tidak basah. Bagaimana cara kita naik? Jangan harap ada tangga apalagi karpet merah. Siapapun yang ingin naik oto, anak kecil hingga manula, harus memanjat melalui besi di samping badan truk. Ironis? Tidak. Itu keren.

IMAG0490

Seorang mama berjuang naik oto

Kondisi fisik masyarakat Flores masih begitu kuat. Buktinya meskipun kaum ibu, atau biasa disebut mama, memakai sarung (terutama di hari pasar) mereka sanggup naik oto yang mengharuskannya memanjat tinggi sekali. Uniknya oto ini bukanlah saja diperuntukkan bagi manusia, melainkan hewan ternak pemiliknya pun diikutkan. Ada sapi, babi, anjing dan ayam.

Pernah suatu ketika dalam perjalan ke Ende (masyarakat biasa menyebut pusat kota dengan namanya), kami berempat naik oto jam 5 pagi. Awalnya masih terlihat beberapa penumpang di atas oto. Keadaan berubah saat oto sampai di Wokonio (perbatasan jalan masuk ke kecamatan kami dan jalan provinsi). Tiba-tiba truk mendapat penumpang super besar, sapi. Awalnya si sapi menolak dan meronta untuk dimasukkan ke dalam oto. Otomatis bangku bagian belakang yang berupa papan kayu sudah diangkat sehingga menjadi lebih luas. Kami melihatnya ngeri. Bagaimana kalau tiba-tiba si sapi ngamuk dan berlari ke depan (arah penumpang)? Berbagai posisi strategis sudah disiapkan kalau saja hewan ini meronta. Sepanjang perjalanan ia berdiri dan berkali-kali jatuh terpeleset. Mungkin dia juga takut sedang berada di mana. Akhirnya sapi lebih memilih diam dan duduk manis. Uggh, lega.

Oto dimiliki secara personal oleh warga desa. Di beberapa tempat, satu orang bisa memiliki beberapa armada dengan nama yang sama, contohnya oto “Kanaan” di daerah Eko ae Kecamatan Welamosa yang berjumlah lebih dari 2. Di setiap desa dipastikan terdapat beberapa oto dengan tujuan berbeda. Misalnya di wilayah tempat saya ada dua orang pemilik oto dengan nama “Anak Karunia” dan “Pesona Kasih”. Keduanya sama-sama menuju Ende. Waktu keberangkatan pun sama, namun bisa dikatakan ekstrim. Jika ingin pergi ke kota, kami harus naik oto antara jam 3 sampai 4 pagi. Perjalanan ke kota membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Sebagian besar penumpang pasti membawa sarung tenun super tebal untuk menghalau dingin. Desa tempat kami tinggal berada di perbukitan. Oh, nama supirnya Om Kidol untuk Anak Karunia dan Om Faron untuk Pesona Kasih. Mereka pun memakai jaket berlapis-lapis saat mulai bekerja mengendarai oto di pagi buta. Ketika semua orang masih tertidur lelap, kehidupan sudah dimulai oleh sebagian warga.

Barang yang diangkut beraneka ragam. Terkadang bawaan para penumpang masih terbilang normal. Namun adakalanya oto mendapat pesanan untuk membeli bahan bangunan di Ende. Pernah kaki kami serasa kram dan pegal minta ampun karena kami harus menekuk kaki akibat tumpukan material di bawah kami. Ada pasir, semen dan papan bambu masuk ke oto. Belum lagi di belakang ada belasan drum berisi moke (arak). Salah satu dari kami ada yang tidak tahan terhadap baunya dan akhirnya, dia mabuk.

Jika ingin naik oto di pagi buta, kami biasanya mengirim pesan pendek via SMS kepada supir bahwa esoknya kami akan ke Ende. Kemudian si sopir akan membunyikan klakson manakala sampai di depan rumah. Oto beroperasi dari Ende untuk kembali ke desa pukul 12.00 WITA. Tempat mereka berhenti ada di Terminal Roworeke. Ende memiliki 2 terminal induk, pertama terminal di Ndao, melayani arah Ende ke Barat menuju kabupaten Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat. Sementara terminal kedua, Roworeke melayani perjalanan dari Ende ke arah Timur menuju kabupaten Sikka dan Flores Timur.

Oto tampak samping

                       Oto tampak samping

Ada satu pengalaman unik yang hampir membuat kami frustasi dan tidak ingin naik oto lagi. tepatnya di tanggal 3 Desember 2013, terjadi longsor besar di Km.17. Masyarakat Flores biasa menyebut daerah dengan Km. Awalnya kami bernagkat pukul 11.30 dari Terminal, tetapi kami sampai di rumah pada pukul 21.00 WITA. Kemacetan terjadi karena area longsor begitu besar dan tidak dapat dibersihkan dalam waktu singkat. Sehingga banyak orang yang memutuskan kembali ke kota. Masalah bertambah saat muncul kabar alat berat tersebut rusak. Jam 5 sore, jalan mulai dibuka dan kendaraan berebut mencari tempat di celah sempit tersebut. Antrian ini mengular dari Km.17 hingga Km. 13.

Peristiwa itu membuat banyak orang gagal melakukan kegiatannya. Misalnya pada Kleopatra, oto khusus dari Desa Nida, membawa penumpang dari jam 6 pagi dan terhenti di antrian sampai jam 5 sore. Bayangkan para penumpang yang akan ke kota harus menunggu lama dan pastinya kegiatan mereka sangat terganggu.

Dioperasikannya oto sebagai alat transportasi di Flores bukanlah tanpa alasan. Sebagian besar keadaan jalan di sana masih begitu jelek. Aspal rusak, jalan berbatu ataupun hanya berupa tanah begitu menyusahkan mobilisasi warga. Sehingga dipilihlah truk yang lebih kuat dalam medan seperti itu dan tentunya bisa mengangkut penumpang lebih banyak. Setiap oto memiliki nama masing-masing dari pemiliknya. Namanya pun cukup unik, ada Dewi Fortuna, Ratu Hevi, Mawar Baru, Haldefs, Samosir, Rifki, Mahkota, Kanaan, Juventus, Ndemba dan masih banyak lagi. Nama tersebut dijadikan identitas oto mengenai asal desa dan trayek yang dimilikinya.

Ketika naik oto, hindari bangku paling depan. Masyarakat Flores sangat senang dengan musik, terutama musik DJ dan reggae. Mungkin ini adalah salah satu bentuk dari kebudayaan orang Portugis yang ditinggalkan. Si supir akan memutar musik super kencang. Kalau tidak terbiasa, seketika turun dari oto, pendengaran akan sedikit terganggu. Kejadian ini pernah saya alami bersama 3 kawan sewaktu pertama kali naik oto menuju sekolah tempat kami bertugas. Begitu excited, kami duduk di bangku depan (masih di bagian bak). Sejenak kemudian pak supir memutar lagu, awalnya pelan dan semakin kencang seiring laju oto.

Kursi penumpang di samping supir hanyalah milik orang-orang tertentu dan terkadang sudah dipesan secara khusus. Misalnya mosalaki (ketua adat), pemilik oto dan perangkat desa. Jangan dikira pegawai desa memiliki kendaraan sendiri. Pemilik motor saja masih bisa dihitung, tidak semua rumah memilikinya, apalagi mobil. Untuk perjalanan jauh, mereka sangat mengandalkan keberadaan oto. Jika terpaksa tidak ada oto yang beroperasi karena telah disewa (biasanya untuk acara pesta pernikahan, sekolah dan acara adat), maka masyarakat harus berjalan sampai menemui oto dari desa lain. Tentu dengan perhitungan waktu yang tepat supaya tidak tertinggal.

Alat transportasi antar provinsi menggunakan semacam bus mini atau bisa juga menggunakan oto.

Barang bawaan penumpang bisa sampai diikat di atas atap. Pemandangan seperti ini biasanya terdapat pada angkutan jenis bis mini. Bahkan babi beserta kandang ditempatkan di atas bis. Mau lebih seram lagi? motor pun terkadang diikat di bagian belakang bis, digantung dengan tali. Entah itu motor bekas maupun motor baru.

Antrian oto di jalan provinsi

                 Antrian oto di jalan provinsi

Masyarakat Flores, terutama kaum laki-laki, biasa naik oto sampai ke atapnya. Biasanya para konjak (kernet/asisten supir) akan naik ke atas atap oto diikuti beberapa pemuda. Meskipun membahayakan, tetapi tidak pernah saya melihat mereka terkena tilang. Mungkin juga kondisi jalanan di Flores didominasi perbukitan dan hutan, sehingga mengadakan razia pun tidak bisa dilakukan setiap waktu.

Oto, Mainan Ala Detukeli

Musim libur bagi kami yang mengajar di pelosok desa tidak akan diisi dengan kegiatan bermanja ria seperti menonton televisi, pergi belanja ataupun bermain internet sampai puas. Kami harus menahan itu semua. Mau bagaimana lagi? Listrik saja belum masuk ke kampung. Oh bukan, lebih tepatnya listrik belum masuk ke kecamatan. Tapi saya tidak akan mendeskripsikan lebih jauh tentang keterbatasan yang ada. Kami menikmatinya. Cobalah hilangkan bayangan keterbatasan mulai sekarang. Sudah bukan saatnya untuk mengasihani mereka. Sebab mereka bahkan terlampau semangat daripada kalian.

Anak-anak mengisi liburan dengan membantu orang tua di kebun. Ada yang menggembala, mengangkut rumput dengan kuda, memetik kopi, meniti (memukul) kemiri, dan bermain oto. Oto? Ya, oto mainan tentunya. Oto dalam bahasa mereka diartikan sebagai kendaraan mobil empat dan selebihnya. Pokoknya oto adalah sebutan mereka untuk mobil, truk dan pick up.

Mainan 'Oto' Anak Ende

Mainan ‘Oto’ Anak Detukeli  (Doc. Megantara Afifa)

Kala itu, saya bersama 3 orang teman mengunjungi desa lain di Watunggere. Di sana ada 3 orang kawan kami bertugas mengajar di SMP Negeri Detukeli. Kampung mereka lebih ramai daripada kampungku, karena jumlah penduduknya pun lebih banyak. Terlihat banyak anak bermain di halaman dan di sepanjang jalan. Kegiatan yang mereka lakukan beragam. Ada yang bermain roda bekas, berlarian dan bermain air yang mengalir dari pipa bambu. Mungkin kamu akan heran melihat anak-anak bermodal ban bekas dan tongkat kayu (tidak cukup panjang, ± 60-100 cm). Mereka akan menggelindingkan ban bekas dan berlarian mengejarnya. Supaya bisa berjalan jauh, mereka dorong ban tersebut menggunakan tongkat kayu. Tongkat yang digunakan lebih banyak dihasilkan dari batang bambu, sebab daerah kami masih menyimpan pohon bambu begitu banyak di pinggir jalan dan jauh di dalam hutan.

Ada satu pemandangan menarik, ketika saya melihat sekelompok anak memegang sebuah tongkat panjang dengan dua roda kecil di bawah. Mereka menyebutnya oto. Cara membuatnya cukup mudah, hanya perlu sebuah tongkat dari kayu atau bambu yang panjang tetapi disesuaikan juga dengan tinggi badan si anak. Kemudian di bagian bawah pasang 2 roda kecil. Uniknya mereka memanfaatkan benda di sekeliling. Roda dibuat dari sandal bekas yang dipotong berbentuk lingkaran, bisa juga dari bekas sepeda roda tiga. Tidak butuh waktu lama untuk membuat, sebab orang tua mereka, terutama kaum laki-laki sangat piawai membuat berbagai macam barang menggunakan bambu. Kaum laki-laki terbiasa memotong bambu dan mengubahnya menjadi barang berguna. Bahkan dinding rumah terbuat dari batang bambu yang dipipihkan kemudian dijemur hingga kering.

Setiap anak, mulai usia SD hingga SMP pasti mempunyai mainan ini. Oto buatan mereka tidak hanya berfungsi sebagai alat mainan saja. Di mana biasanya mereka akan berlomba lari dan siapa yang paling cepat mencapai finish, itulah pemenangnya. Permainan oto ini bisa dilakukan di jalan maupun lapangan. Maklum saja jalanan di desa mereka tidak seramai di kota maupun desa-desa di Jawa. Oto mereka gunakan sebagai “pesawat sederhana”. Khususnya bagi siswa yang rumahnya jauh dengan sekolah, biasanya akan tinggal di rumah saudara atau asrama supaya lebih dekat dengan sekolah. Di saat mereka pulang kampung, para orang tua memberi uang saku berupa barang. Misalnya beras, pisang, kemiri, jagung dan sayur-sayuran. Nah, untuk mengurangi beban yang ditopang masing-masing barang, mereka menaruhnya di oto tadi. Jadi jangan heran jika di sekolah pun “terparkir” rapi oto-oto mereka. Sepulang sekolah sepatu mereka lepas dan berjalan dengan sandal atau tanpa alas karena khawatir rusak. Jalan yang harus mereka tempuha bukanlah aspal mulus, melainkan jalan berbatu yang akan berlumpur di saat musim hujan. Sepatu mereka gantung di oto yang dibawanya. Tak jarang pula terlihat pemandangan tas ransel pun mereka gantung di oto. Kemudian mereka berlarian mengejar teman-temannya di depan. Perjalanan pulang yang seharusnya begitu jauh jadi terasa dekat dan menyenangkan.

“Kami tidak perlu menenteng bawaan yang berat, karena ada oto. Kami bisa menaruhnya di sana,” ucap Reginius Lawa, anak berbaju biru paling tinggi.

Oto bisa digunakan pula untuk mengambil air di mata air. Desa Watunggere merupakan wilayah yang kekurangan air. Tidak banyak mata air muncul di daerah ini. Bak penampungan paling besar berjarak 2 km dengan jalan berliku dan cukup curam. Warga harus mengantri untuk mengambil air di sana. Tak heran jika setiap pagi banyak warga mandi beramai-ramai di bak penampungan itu. Siang harinya, para mama akan mencuci baju. Nah di sore hari waktunya anak-anak mengambil air menggunakan jerigen 5 liter. Mereka pun lagi-lagi menggunakan oto sebagai alat bantu agar tak terasa berat membawanya.

Alat ini digunakan untuk mengambil air

Alat ini digunakan untuk mengambil air (Doc. Megantara Afifa)

Sebuah alat bermain yang sederhana namun begitu bermanfaat. Sesederhana cara mereka menjalani kehidupan yang kata orang “kota” penuh dengan keterbatasan. Bukan itu sebenarnya. Bahkan kami pun menyadari bahwa dari merekalah kami belajar tentang hidup dan kehidupan. Bagaimana untuk belajar menghargai alam dan tak “neko-neko”.

“Kemerdekaan” di Tanah Detukeli

Upacara kemerdek11082014aan memang sudah selesai. Setiap tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia selalu diwarnai kemeriahan merah – putih. Hanya itu saja kah? Selama 69 tahun merdeka, kita “hanya” melakukan seremoni rutin di lapangan. Mungkin sudah terlambat juga jika bercerita tentang seremoni spesial ini. Tapi tak apalah, toh setiap waktu selalu ada cerita berbeda. Meski esensinya sama.

Entah rasa excited berlebihan atau tiba – tiba jiwa nasionalis muncul, hari itu (17/08) semangat upacara menggebu. Padahal untuk mencapai lapangan di Kantor Desa Kebesani, dibutuhkan waktu 45 menit berjalan kaki naik turun. Apabila dihitung, yah mungkin sekitar 4 – 5 km. Jauh? Entah rasa jauh – dekat terasa sama saja.

Pukul 11.04 WITA, dimulai gladi bersih mempersiapkan upacara. Peserta upacara berasal dari siswa SD Inpres Feoria, SD Katolik Gaibhabha dan SMK Negeri 6 Ende. Selain itu hadir pula perwakilan masyarakat Dusun Nua Pu, Feoria, dan Gaibhabha. Sepuluh menit kemudian, upacara dimulai. Khidmat dan khusyuk sekali. Sirine Megaphone dan sepeda motor digunakan sebagai tanda kebesaran. Berselang satu jam kemudian upacara selesai.

Ada sebuah kebiasaan unik di desa ini. Sebuah desa bernama Kebesani terletak di Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, Flores – Nusa Tenggara Timur. Bahkan hampir semua desa di kecamatan ini selalu mengadakan makan bersama seusai upacara berlangsung. Kebersamaan masyarakat adalah prioritas utama di setiap aktivitas. Di saat makan bersama, semua orang akan makan dengan menu yang sama.

Di sela – sela waktu makan, seorang Pastor membuka perbincangan tentang arti kemerdekaan. Beliau berkata dulu memang musuh kita adalah Belanda, namun sekarang musuh kita ialah isolasi. Hal ini diibaratkan dengan letak Desa Kebesani sebagai pintu gerbang memasuki Kecamatan Detukeli. Kecamatan ini merupakan satu – satunya kecamatan tanpa listrik selama bertahun – tahun. Akses jalan rusak, berlubang di mana – mana. Beliau mengibaratkan “Bagaimana seseorang bisa masuk rumah dengan nyaman jika ruang tamu masih kotor. Tentu sebagai tamu tidak akan mampu berlama – lama menghabiskan waktu di rumah tersebut. Seperti halnya desa ini yang masih dilalui jalan rusak.

Kemudian, masalah kemerdekaan selanjutnya ialah ekonomi. Pastor menambahkan senjata masyarakat di masa kemerdekaan sekarang ini adalah kopi. Ya, kopi sebagai komoditas utama warga di desa ini sebaiknya mampu dikembangkan lebih baik. Bagaimana supaya kopi – kopi ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Bahkan mungkin lebih baik jika diolah menjadi produk selain kopi biji ataupun kopi bubuk.

Secara sederhana, arti dari sebuah kemerdekaan ialah bebas. Bebas dari penjajah, bebas menjadi Negara berdaulat dan bebas menjalankan roda Pemerintahan. Coba tengok sekali lagi, masihkah kita bebas mendapat supply bahan makanan? Beras sebagai makanan pokok, masihkah kita menghasilkannya tanpa mendatangkannya dari negara lain? Darimana asalnya bawang merah dan bawang putih selama ini? Yakin kita bebas?

Pikirkanlah lebih baik lagi.

Sarjana Non-Kependidikan, Sanggupkah Menjadi Seorang Guru?

Dunia pendidikan kembali dikagetkan dengan adanya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak permohonan pengujian  pasal 9 Undang-undang no.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Keputusan tersebut menyatakan bahwa sarjana non-kependidikan bisa menjadi guru atau dosen. Pasal 9 berbunyi “Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat”. Di mana pada pasal 8 berbunyi “Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Penolakan pengujian terhadap pasal 9 menimbulkan akibat bahwa sarjana non-kependidikan dapat diangkat menjadi guru atau dosen.

Dalam pertimbangannya, MK menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapat penghidupan yang layak. Sesuai dengan pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 berbunyi “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.” Atas dasar itulah MK menetapkan keputusan bahwa sarjana non-kependidikan dapat diangkat menjadi guru. Sehingga tidak hanya lulusan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) saja yang dapat menjadi seorang guru.  Namun MK juga menegaskan bahwa sarjana non-kependidikan harus memenuhi syarat-syarat peraturan perundang-undangan.

Ditetapkannya keputusan ini menimbulkan beberapa pertanyaan terkait kenyataan selama ini di dunia pendidikan. Pertama, apakah MK merasa bahwa tidak ada lagi sarjana kependidikan yang mampu menjadi guru atau dosen profesional? Kedua, apakah sarjana non-kependidikan mampu menjadi seorang guru profesional?

Pendidikan di Indonesia hampir selalu mendapat reputasi buruk dengan adanya berbagai kasus seperti kacaunya ujian nasional, perilaku buruk dari seorang guru kepada siswanya, serta ketidakpuasan orang tua terhadap kemampuan akademik maupun non-akademik anaknya. Tentunya, guru menjadi sorotan utama dalam berbagai kasus tersebut, meskipun pasti ada oknum-oknum di belakang itu semua. Kemudian berbagai kritikan orang tua terhadap guru pun sering terlontar. Pintar atau bodoh menjadi cap utama orang tua melihat kemampuan anaknya. Jika nilai-nilai pelajarannya jelek, maka pertanyaan orang tua adalah “Apakah guru yang mengajar menguasai materi ajar dan mampu mengajar ataukkah tidak?”. Melihat berbagai permasalahan di dunia pendidikan, apakah MK lantas berpikir bahwa sarjana pendidikan tidak mampu lagi menjadi guru profesional. Padahal tidak semua guru melakukan hal buruk. Masih banyak guru berprestasi dan bahkan mengharumkan bangsa Indonesia. Ada juga guru yang membimbing siswanya untuk mengikuti berbagai kompetisi di tingkat Nasional maupun Internasional.

Permasalahan kedua tentang sarjana non-kependidikan dapat menajdi guru adalah mereka memang menguasai materi. Bahkan mungkin lebih baik dari seorang sarjana kependidikan. Ini dikarenakan mereka mempelajari secara khusus ilmu-ilmu murni. Namun selama belajar, mereka tidak dipersiapkan untuk menjadi seorang guru. Sehingga dalam studinya, sarjana non-kependidikan tidak mendalami apa itu kurikulum, bagaimana proses pembelajaran, proses evaluasi terhadap siswa, serta metode belajar dalam menyampaikan materi. Jadi, serasa percuma jika seseorang hanya menguasai bidang ilmu pengetahuan saja tanpa memiliki penguasaan dalam penyampaian materi. Selain itu, seorang guru tidak hanya berkewajiban sebagai pengajar, namun juga seorang pendidik. Bagaimana nanti seorang siswa berbudi luhur.

Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, 1889 – 1959) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti ( karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”. Salah jika seorang guru ataupun dosen sekalipun berpikir bahwa kewajiban mereka hanya sebagai pengajar. Sesungguhnya tugas mereka sangatlah besar. Guru dan dosen adalah pendidik. Pendidik berkewajiban membuat siswanya menguasai ilmu pengetahuan dan mendidik siswanya menjadi seorang yang berbudi pekerti luhur serta mampu berselaras dengan alam dan masyarakat.

Apabila profesi guru dan dosen hanya diliat dan dikejar sebagai jalan memperoleh penghidupan, maka keputusan MK tersebut tidak berarti apa-apa. Pendidikan membutuhkan sosok pendidik yang mampu dan mau bekerja keras demi anak didiknya. Ketakutan sarjana pendidikan terhadap keputusan MK sudah selayaknya dihilangkan. Pemikiran untuk bersaing dengan sarjana non-kependidikan untuk mendapat lapangan pekerjaan sepertinya memang diperlukan. Supaya mereka alumni berijazah pendidikan benar-benar berkualitas, baik dari segi bidang ilmu pengetahuan, maupun kemampuan paedagogik sebagai seorang guru.

Dengan berbagai sumber: