Pelatihan Analisis Sosial Agar Mahasiswa Kritis

Semakin hari, semakin ada saja permasalahan tatanan sosial muncul di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Sebut saja kehidupan anak jalanan, perilaku masyarakat terhadap lingkungan serta tatanan ekonomi di kehidupan masyarakat. Berbagai permasalahan sosial tersebut seyogyanya mampu ditangani oleh pihak terkait. Salah satunya dapat dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa sebagai agent of change diharapkan mampu menjadi seorang pembawa perubahan bagi kehidupan masyarakat. Untuk mengetahui berbagai permasalahan tatanan sosial di masyarakat diperlukan sebuah analisis sosial. Tujuan akhir dari analisis sosial tidak hanya untuk mengetahui saja, namun juga menawarkan solusi bagi permasalahan tersebut. Melihat kenyataan tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muria Kudus (BEM UMK) menyelenggarakan pelatihan analisis sosial bagi mahasiswa UMK. Kegiatan selama 3 hari (03-05/07- 2013) yang bertempat di Gedung Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK) mengundang dua narasumber  ahli di bidangnya. Beliau adalah Nur Sayyid Santoso Kristeva, M.A. dan M. Widjanarko, M.Si.

Imam Prastyo Arwindra, Ketua Panitia pelatihan analisis sosial, mengungkapkan bahwa pelatihan analisis sosial adalah suatu pelatihan mengenai bagaimana cara memahami permasalahan tatanan sosial yang ada di masyarakat serta mempunyai solusi akan permasalahan yang ada. Ia juga menuturkan bahwa pelatihan ini sekaligus menjadi tempat untuk merealisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga, yakni abdi masyarakat.

“Senantiasa mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmunya di masyarakat serta dapat menyelesaikan permasalahan sosial yang ada di masyarakat,” tuturnya.

Diikuti 12 mahasiswa UMK, pelatihan analisis sosial ini mendapat antusiasme yang tinggi dari para pesertanya. Selama pelatihan berlangsung, mereka tidak mendapat materi secara terus menerus. Di sela-sela pelatihan, peserta diajak untuk bermain game di dalam ruangan atau ice breaking untuk memecah ketegangan. Tidak kalah menarik, panitia memutar lagu-lagu bertema sosial dengan tujuan supaya peserta tidak bosan dan tetap semangat. Pada kegiatan ini peserta juga berlatih analisis wacana di koran dan analisis film bertema diskriminasi terhadap TKI.

Analisis Sosial di Lapangan
Pada hari terakhir, peserta pelatihan mendapat kesempatan untuk terjun ke lapangan dan melakukan analisis sosial. Daerah Kaligelis menjadi sasaran utama para peserta untuk menganalisa berbagai permasalahan sosial yang ada.

Imam menjelaskan bahwa di tahap ini peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama mendapat tema permasalahan kehidupan anak jalanan. Kelompok kedua, pedagang tetap dan pedagang pendatang (dandangan). Sedangkan kelompok ketiga tentang kehidupan masyarakat di Kaligelis. Di sana peserta diminta menemukan permasalahan sosial yang terjadi, wawancara dengan stakeholder yang bersangkutan dengan masalah tersebut, menganalisisnya dan akhirnya memberikan solusi akan permasalahan itu. Peserta diminta mempresentasikan hasil analisa di lapangan.

Salah seorang peserta, Ainun Nafiati, mengaku pelatihan tersebut sangatlah menarik. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) semester 5 ini mengungkapkan bahwa kegiatan yang dilakukan tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.

“Benar-benar studi yang menarik, saya tidak mendapatkan di perkuliahan dan sangat bermanfaat. Paling  tidak  buat lingkungan sendiri. Mencoba menganalisis apa yang terjadi di sekitar dan mencoba untuk membantu mencari solusi, memperjuangkan hak-hak juga,” pungkasnya.

Apapun hasilnya, harapan dari kegiatan tersebut, mahasiswa dapat terbuka jiwa dan raganya untuk dekat dengan masyarakat, mengaplikasikan ilmunya untuk kemakmuran masyarakat.

“Tidak terpaku dengan egoisme akademik dan individualisme serta mau memperhatikan dan mengawal permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat untuk keutuhan masyarakat yang makmur, bangsa yang jaya serta merdeka,” jelas Imam

Dimuat di:

http://infomahasiswa.umk.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=940:pelatihan-analisis-sosial-agar-mahasiswa-kritis&catid=955:pelatihan-analisis-sosial-agar-mahasiswa-kritis&Itemid=1

Advertisements

BEM Pertanian Pelatihan PKM di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan tidak selalu identik dengan berbagai kegiatan sosial seperti menyantuni anak yatim piatu dan buka bersama. Layaknya bulan- bulan lain diluar Ramadhan, berbagai kegiatan masih dapat dilaksanakan. Aktivitas tidak harus terhenti hanya karena menjalankan puasa. Menilik apa yang dilakukan oleh para anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus (BEM FP UMK) pada Rabu (17/07-2013), mereka menggelar sebuah kegiatan pelatihan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bagi para mahasiswa Fakultas Pertanian UMK sekaligus buka bersama di akhir acara. Meskipun dilaksanakan di bulan Ramadhan, antusiasme para peserta terlihat besar dengan hadirnya 30 orang pada pelatihan tersebut.

Mohammad Sofiyan, Ketua Panitia dan juga anggota BEM, menuturkan bahwa pelatihan PKM kali ini terasa sangat spesial. Dikarenakan berada di nuansa Ramadhan, pelatihan terasa lebih santai antara peserta dan panitia. Selain itu di akhir acara mereka berbuka bersama sehingga menambah rasa keakraban.

“Kali ini pelatihan memang terasa singkat, hanya satu hari. Biasanya dalam kurun waktu tiga minggu kami melaksanakan tiga kali. Tiap minggunya kami siapkan kegiatan yang berbeda. Di minggu pertama, narasumber akan memberi motivasi kepada mahasiswa untuk bersemangat membuat proposal PKM. Kemudian pada minggu selanjutnya, narasumber akan memberikan contoh dari proposal PKM secara detail. Setelah itu, peserta diminta untuk membuat sendiri proposal PKM dan nantinya akan dikoreksi oleh narasumber,” ungkapnya ketika menceritakan keadaan pelatihan.

“Tapi berhubung puasa ya, kita mempersingkat waktu pelatihan. Semoga tetap bermanfaat bagi teman-teman mahasiswa,” pungkasnya. Bertempat di ruang 2.A Gedung Djarum, tujuan dari pelatihan PKM ini lebih ditekankan kepada pembekalan. Sebagian besat peserta berasal dari semester 2 yang memang masih awam dengan istilah PKM. Oleh karena itu, melalui pelatihan PKM para mahasiswa diberi bekal seperti langkah membuat serta bagaimana kriteria PKM yang baik.

Ditambahkan oleh Sofiyan, pada pelatihan tersebut dihadirkan tiga narasumber yang juga dosen Fakultas Pertanian. Beliau yaitu Dra. Farida Yuliani M.Si, Ir. Supari, M.Si, dan Drs. Hendi Hendro H.S., M.Si. Pelatihan yang dilaksanakan selama satu hari ini dibagi menjadi 3 sesi dengan narasumber yang berbeda-beda. Setiap dosen memiliki spesifikasi PKM sendiri-sendiri. Sebagai contoh, Ibu Farida menjadi narasumber khusus PKM-Kewirausahaan (PKM-K). Beliau juga akan menangani mahasiswa yang mengajukan proposal PKM-K dan mahasiswa yang lolos.

Untuk ke depannya, Sofiyan mewakili seluruh rekan mahasiswa Fakultas Pertanian, mengharapkan pihak universitas dan fakultas mampu memfasilitasi, memotivasi serta mengatur bentuk pengumuman atau jadwal pembuatan proposal PKM.

 

Dimuat di:

http://infomahasiswa.umk.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=941:bem-pertanian-pelatihan-pkm-di-bulan-ramadhan&catid=954:bem-pertanian-pelatihan-pkm-di-bulan-ramadhan&Itemid=1Image

LTM Fair, Dosen Uji Kemampuan Mengajar Mahasiswa

Suasana lain nampak di lantai 3 dan 4 di gedung N. Terlihat banyak mahasiswa berkumpul bersama dalam kelompok-kelompok kecil sedang mempersiapkan alat peraga. Beralaskan karpet sederhana mereka menghias “tempat” kecilnya. Bahkan sekelompok mahasiswa memakai hias kepala sesuai tema alat peraga yang diusungnya. Mereka sedang mengikuti “Language Teaching Media” (LTM) Fair (Pameran Media Pembelajaran Bahasa) pada Selasa (30/4).

alat peraga1.jpg

Fajar Kartika, SS MHum, selaku dosen pengampu mata kuliah Language Teaching Media (Media Pembelajaran Bahasa) mengungkapkan bahwa pameran alat peraga tersebut diselenggarakan dengan tujuan untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam membuat media pembelajaran bahasa. Setiap dua kali pertemuan kelas akan dilakukan uji kompetensi. “Mahasiswa diarahkan untuk mampu menentukan media pembelajaran sesuai materi ajar, sehingga ketika membuat media, penggunaannya bisa sangat efektif,” jelasnya.

Mata kuliah LTM ini diikuti oleh mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Inggris (Prodi PBI) semester IV. Kali ini pameran media pembelajaran diisi oleh dua kelas. Acara menjadi bentuk penilaian atau tolak ukur kemampuan mahasiswa untuk uji kompetensi.

Dalam acara yang berlangsung selama sekitar lima jam ini, setiap kelompok yang terdiri tiga mahasiswa mempresentasikan media pembelajaran sesuai materi ajar. Masing-masing anggota memiliki tugas, yakni menguasai uraian materi, menggambarkan media, dan mendemonstrasikan penggunaan media.

Setiap kelompok mendapat materi ajar yang ditentukan oleh dosen. Materi antara lain adalah spoof, present tense, modality, question tag, passive voice, recount, perfect tense, past tense, dan descriptive. Kelompok membuat media yang tempat untuk menyampaikan materi di atas.

Penilaian paparan kelompok dilakukan oleh tiga dosen yaitu Fajar Kartika, SS MHum, Rusiana, MPd serta seorang dosen pendukung dari tiap-tiap kelompok.

Konsep tersebut, ungkap Fajar, pada awalnya direspon negatif oleh mahasiswa. Mereka keberatan. Namun begitu, menurutnya, penampilan dan presentasi peserta acara lebih dari yang diharapkannya. “Ternyata, akhirnya mahasiswa menikmati acaranya,” ujarnya.

presentasi.jpg

TigakomA Pentaskan “Dalam Bayangan Tuhan”

Pada pentas produksi ke tujuh, Teater TigakomA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) menampilkan lakon berjudul “Dalam Bayangan Tuhan” karya Arifin C Noer. Pentas digelar di Auditorium UMK, Selasa (23/4).

Karya Arifin C. Noer tersebut dipilih, menurut Sutradara, R Dhani, sebab kreatornya merupakan seorang pengarang surialisme yang cerdas. Arifin tidak terjebak salah kaprah seperti penyajian sinetron-sinetron di televise yang tidak membumi.

Tidak seperti biasanya, lakon ditampilkan dua kali, yakni di sore dan malam hari. Hal ini, ungkap Ketua Teater TigakomA, Dwi Setiyorini, dimaksudkan supaya semua kalangan dapat menikmati pementasan ini, terutama pelajar dari kalangan komunitas teater.

Pementasan sore hari, sambungnya, dilakukan untuk menggaet penonton dari kalangan pelajar. Sementara mahasiswa biasanya baru memiliki waktu luang di malam hari. “Kalau hanya sore saja, teman-teman mahasiswa jarang bisa datang. Tapi sebaliknya kalau pentas malam hari, pelajar sedikit yang datang, karena terkait ijin orang tua,” pungkasnya.

Hasilnya cukup menggembirakan. Menurut Dwi, pentas kali ini ditonton banyak orang dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga dosen. “Hampir separuh ruang auditorium dipenuhi sesak penonton, baik jadwal sore maupun malam hari,” ujarnya menggambarkan banyaknya penonton.

Pesan

Lakon pementasan, tutur Pimpinan Produksi, Danny Lutvi Hidayat, memberikan pesan bahwa manusia tidak terlepas dari kuasa Tuhan. Manusia tidak dapat menuhankan dirinya sendiri, meski hebat di bidang ilmu pengetahuan. “Jangan sampai kesombongan manusia membuat lupa dirinya sendiri yang lahir dari rahim ibunya,” pesannya.

Pesan tersebut nampak dari dua tokoh utama pementasan, Sandek yang diperankan diperankan Zaenal Muttaqien dan Direktur Umum yang diperankan oleh Saiful Anam.

Sandek yang hanya seorang buruh pabrik memilih ‘bisu’. Ia berkeyakinan kata-kata tidak mampu merubah takdir hidupnya.

Di sisi lain, terdapat sosok direktur umum yang merupakan pekerja keras dan berambisi menjadi penguasa dunia. Ia digambarakan sebagai sosok yang memiliki usaha kuat demi meraih impian hingga mengingkari takdirnya. Ia tidak mengakui ibu kandungnya.