Oto, Mobilisasi Warga di Pelosok Negeri

Oto, Mobilisasi Warga di Pelosok Negeri.

Advertisements

Oto, Mobilisasi Warga di Pelosok Negeri

Berbicara tentang keterbatasan, rasanya kurang pas jika dibahas terus-menerus. Mau bagaimana lagi? Inilah yang masih dan sedang dialami di banyak daerah Indonesia. Kalimantan dengan perahu untuk menyeberang sungai-sungai besar, Papua dengan pesawat perintisnya untuk berpindah dari distrik terdalam menuju kota dan Flores dengan oto sebagai alat transportasi masyarakat desa menuju kota.

Oto, adalah sebuah truk dengan modifikasi tertentu dan dijadikan transportasi publik di Flores. Oto bisa ditemui di hampir semua kabupaten. Bentuknya masih berupa truk, namun bagian bak diberi atap dengan tiang kayu dan samping kiri dan kanan terdapat terpal terlipat. Terpal ini berfungsi sebagai jendela ketika hujan tiba, supaya penumpang tidak basah. Bagaimana cara kita naik? Jangan harap ada tangga apalagi karpet merah. Siapapun yang ingin naik oto, anak kecil hingga manula, harus memanjat melalui besi di samping badan truk. Ironis? Tidak. Itu keren.

IMAG0490

Seorang mama berjuang naik oto

Kondisi fisik masyarakat Flores masih begitu kuat. Buktinya meskipun kaum ibu, atau biasa disebut mama, memakai sarung (terutama di hari pasar) mereka sanggup naik oto yang mengharuskannya memanjat tinggi sekali. Uniknya oto ini bukanlah saja diperuntukkan bagi manusia, melainkan hewan ternak pemiliknya pun diikutkan. Ada sapi, babi, anjing dan ayam.

Pernah suatu ketika dalam perjalan ke Ende (masyarakat biasa menyebut pusat kota dengan namanya), kami berempat naik oto jam 5 pagi. Awalnya masih terlihat beberapa penumpang di atas oto. Keadaan berubah saat oto sampai di Wokonio (perbatasan jalan masuk ke kecamatan kami dan jalan provinsi). Tiba-tiba truk mendapat penumpang super besar, sapi. Awalnya si sapi menolak dan meronta untuk dimasukkan ke dalam oto. Otomatis bangku bagian belakang yang berupa papan kayu sudah diangkat sehingga menjadi lebih luas. Kami melihatnya ngeri. Bagaimana kalau tiba-tiba si sapi ngamuk dan berlari ke depan (arah penumpang)? Berbagai posisi strategis sudah disiapkan kalau saja hewan ini meronta. Sepanjang perjalanan ia berdiri dan berkali-kali jatuh terpeleset. Mungkin dia juga takut sedang berada di mana. Akhirnya sapi lebih memilih diam dan duduk manis. Uggh, lega.

Oto dimiliki secara personal oleh warga desa. Di beberapa tempat, satu orang bisa memiliki beberapa armada dengan nama yang sama, contohnya oto “Kanaan” di daerah Eko ae Kecamatan Welamosa yang berjumlah lebih dari 2. Di setiap desa dipastikan terdapat beberapa oto dengan tujuan berbeda. Misalnya di wilayah tempat saya ada dua orang pemilik oto dengan nama “Anak Karunia” dan “Pesona Kasih”. Keduanya sama-sama menuju Ende. Waktu keberangkatan pun sama, namun bisa dikatakan ekstrim. Jika ingin pergi ke kota, kami harus naik oto antara jam 3 sampai 4 pagi. Perjalanan ke kota membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Sebagian besar penumpang pasti membawa sarung tenun super tebal untuk menghalau dingin. Desa tempat kami tinggal berada di perbukitan. Oh, nama supirnya Om Kidol untuk Anak Karunia dan Om Faron untuk Pesona Kasih. Mereka pun memakai jaket berlapis-lapis saat mulai bekerja mengendarai oto di pagi buta. Ketika semua orang masih tertidur lelap, kehidupan sudah dimulai oleh sebagian warga.

Barang yang diangkut beraneka ragam. Terkadang bawaan para penumpang masih terbilang normal. Namun adakalanya oto mendapat pesanan untuk membeli bahan bangunan di Ende. Pernah kaki kami serasa kram dan pegal minta ampun karena kami harus menekuk kaki akibat tumpukan material di bawah kami. Ada pasir, semen dan papan bambu masuk ke oto. Belum lagi di belakang ada belasan drum berisi moke (arak). Salah satu dari kami ada yang tidak tahan terhadap baunya dan akhirnya, dia mabuk.

Jika ingin naik oto di pagi buta, kami biasanya mengirim pesan pendek via SMS kepada supir bahwa esoknya kami akan ke Ende. Kemudian si sopir akan membunyikan klakson manakala sampai di depan rumah. Oto beroperasi dari Ende untuk kembali ke desa pukul 12.00 WITA. Tempat mereka berhenti ada di Terminal Roworeke. Ende memiliki 2 terminal induk, pertama terminal di Ndao, melayani arah Ende ke Barat menuju kabupaten Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat. Sementara terminal kedua, Roworeke melayani perjalanan dari Ende ke arah Timur menuju kabupaten Sikka dan Flores Timur.

Oto tampak samping

                       Oto tampak samping

Ada satu pengalaman unik yang hampir membuat kami frustasi dan tidak ingin naik oto lagi. tepatnya di tanggal 3 Desember 2013, terjadi longsor besar di Km.17. Masyarakat Flores biasa menyebut daerah dengan Km. Awalnya kami bernagkat pukul 11.30 dari Terminal, tetapi kami sampai di rumah pada pukul 21.00 WITA. Kemacetan terjadi karena area longsor begitu besar dan tidak dapat dibersihkan dalam waktu singkat. Sehingga banyak orang yang memutuskan kembali ke kota. Masalah bertambah saat muncul kabar alat berat tersebut rusak. Jam 5 sore, jalan mulai dibuka dan kendaraan berebut mencari tempat di celah sempit tersebut. Antrian ini mengular dari Km.17 hingga Km. 13.

Peristiwa itu membuat banyak orang gagal melakukan kegiatannya. Misalnya pada Kleopatra, oto khusus dari Desa Nida, membawa penumpang dari jam 6 pagi dan terhenti di antrian sampai jam 5 sore. Bayangkan para penumpang yang akan ke kota harus menunggu lama dan pastinya kegiatan mereka sangat terganggu.

Dioperasikannya oto sebagai alat transportasi di Flores bukanlah tanpa alasan. Sebagian besar keadaan jalan di sana masih begitu jelek. Aspal rusak, jalan berbatu ataupun hanya berupa tanah begitu menyusahkan mobilisasi warga. Sehingga dipilihlah truk yang lebih kuat dalam medan seperti itu dan tentunya bisa mengangkut penumpang lebih banyak. Setiap oto memiliki nama masing-masing dari pemiliknya. Namanya pun cukup unik, ada Dewi Fortuna, Ratu Hevi, Mawar Baru, Haldefs, Samosir, Rifki, Mahkota, Kanaan, Juventus, Ndemba dan masih banyak lagi. Nama tersebut dijadikan identitas oto mengenai asal desa dan trayek yang dimilikinya.

Ketika naik oto, hindari bangku paling depan. Masyarakat Flores sangat senang dengan musik, terutama musik DJ dan reggae. Mungkin ini adalah salah satu bentuk dari kebudayaan orang Portugis yang ditinggalkan. Si supir akan memutar musik super kencang. Kalau tidak terbiasa, seketika turun dari oto, pendengaran akan sedikit terganggu. Kejadian ini pernah saya alami bersama 3 kawan sewaktu pertama kali naik oto menuju sekolah tempat kami bertugas. Begitu excited, kami duduk di bangku depan (masih di bagian bak). Sejenak kemudian pak supir memutar lagu, awalnya pelan dan semakin kencang seiring laju oto.

Kursi penumpang di samping supir hanyalah milik orang-orang tertentu dan terkadang sudah dipesan secara khusus. Misalnya mosalaki (ketua adat), pemilik oto dan perangkat desa. Jangan dikira pegawai desa memiliki kendaraan sendiri. Pemilik motor saja masih bisa dihitung, tidak semua rumah memilikinya, apalagi mobil. Untuk perjalanan jauh, mereka sangat mengandalkan keberadaan oto. Jika terpaksa tidak ada oto yang beroperasi karena telah disewa (biasanya untuk acara pesta pernikahan, sekolah dan acara adat), maka masyarakat harus berjalan sampai menemui oto dari desa lain. Tentu dengan perhitungan waktu yang tepat supaya tidak tertinggal.

Alat transportasi antar provinsi menggunakan semacam bus mini atau bisa juga menggunakan oto.

Barang bawaan penumpang bisa sampai diikat di atas atap. Pemandangan seperti ini biasanya terdapat pada angkutan jenis bis mini. Bahkan babi beserta kandang ditempatkan di atas bis. Mau lebih seram lagi? motor pun terkadang diikat di bagian belakang bis, digantung dengan tali. Entah itu motor bekas maupun motor baru.

Antrian oto di jalan provinsi

                 Antrian oto di jalan provinsi

Masyarakat Flores, terutama kaum laki-laki, biasa naik oto sampai ke atapnya. Biasanya para konjak (kernet/asisten supir) akan naik ke atas atap oto diikuti beberapa pemuda. Meskipun membahayakan, tetapi tidak pernah saya melihat mereka terkena tilang. Mungkin juga kondisi jalanan di Flores didominasi perbukitan dan hutan, sehingga mengadakan razia pun tidak bisa dilakukan setiap waktu.