Teruntuk Lelaki Hebatku

Dear Ayah,

Aku rasa kerutan di wajahmu semakin bertambah

Garis-garis itu tampak begitu jelas, dan

Aku yakin Engkau tak mampu lagi menyembunyikannya dariku

Tanganmu yang dulu mengayun jemari kecilku

Tampak tak bersemangat

Meskipun senyummu selalu merekah, tapi

Entah, aku selalu berpikir bahwa aku belum menjadi yang terbaik

Dan aku menjadi semakin yakin saat pertanyaan itu datang

Maaf, aku belum bisa memberi jawaban

Di saat para ayah seusiamu bisa bermain dengan cucunya

Apalah aku yang bahkan menggandeng lelaki separuh hidupku pun belum kulakukan

Ah, aku tahu ayah

Di seperempat abad usiaku kini harusnya aku hidup bersama orang lain

Dia yang menemaniku sampai menua

Dia yang aku ajak bermain di sisa usiaku

Aku tidak bisa memberimu janji apapun

Hanya, aku akan membawakanmu seseorang yang terbaik

Tunggulah aku ayah

Tunggu aku untuk membahagiakanmu

my-dad-my-hero-quote-1

 

 

Pelatihan Analisis Sosial Agar Mahasiswa Kritis

Semakin hari, semakin ada saja permasalahan tatanan sosial muncul di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Sebut saja kehidupan anak jalanan, perilaku masyarakat terhadap lingkungan serta tatanan ekonomi di kehidupan masyarakat. Berbagai permasalahan sosial tersebut seyogyanya mampu ditangani oleh pihak terkait. Salah satunya dapat dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa sebagai agent of change diharapkan mampu menjadi seorang pembawa perubahan bagi kehidupan masyarakat. Untuk mengetahui berbagai permasalahan tatanan sosial di masyarakat diperlukan sebuah analisis sosial. Tujuan akhir dari analisis sosial tidak hanya untuk mengetahui saja, namun juga menawarkan solusi bagi permasalahan tersebut. Melihat kenyataan tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muria Kudus (BEM UMK) menyelenggarakan pelatihan analisis sosial bagi mahasiswa UMK. Kegiatan selama 3 hari (03-05/07- 2013) yang bertempat di Gedung Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK) mengundang dua narasumber  ahli di bidangnya. Beliau adalah Nur Sayyid Santoso Kristeva, M.A. dan M. Widjanarko, M.Si.

Imam Prastyo Arwindra, Ketua Panitia pelatihan analisis sosial, mengungkapkan bahwa pelatihan analisis sosial adalah suatu pelatihan mengenai bagaimana cara memahami permasalahan tatanan sosial yang ada di masyarakat serta mempunyai solusi akan permasalahan yang ada. Ia juga menuturkan bahwa pelatihan ini sekaligus menjadi tempat untuk merealisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga, yakni abdi masyarakat.

“Senantiasa mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmunya di masyarakat serta dapat menyelesaikan permasalahan sosial yang ada di masyarakat,” tuturnya.

Diikuti 12 mahasiswa UMK, pelatihan analisis sosial ini mendapat antusiasme yang tinggi dari para pesertanya. Selama pelatihan berlangsung, mereka tidak mendapat materi secara terus menerus. Di sela-sela pelatihan, peserta diajak untuk bermain game di dalam ruangan atau ice breaking untuk memecah ketegangan. Tidak kalah menarik, panitia memutar lagu-lagu bertema sosial dengan tujuan supaya peserta tidak bosan dan tetap semangat. Pada kegiatan ini peserta juga berlatih analisis wacana di koran dan analisis film bertema diskriminasi terhadap TKI.

Analisis Sosial di Lapangan
Pada hari terakhir, peserta pelatihan mendapat kesempatan untuk terjun ke lapangan dan melakukan analisis sosial. Daerah Kaligelis menjadi sasaran utama para peserta untuk menganalisa berbagai permasalahan sosial yang ada.

Imam menjelaskan bahwa di tahap ini peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama mendapat tema permasalahan kehidupan anak jalanan. Kelompok kedua, pedagang tetap dan pedagang pendatang (dandangan). Sedangkan kelompok ketiga tentang kehidupan masyarakat di Kaligelis. Di sana peserta diminta menemukan permasalahan sosial yang terjadi, wawancara dengan stakeholder yang bersangkutan dengan masalah tersebut, menganalisisnya dan akhirnya memberikan solusi akan permasalahan itu. Peserta diminta mempresentasikan hasil analisa di lapangan.

Salah seorang peserta, Ainun Nafiati, mengaku pelatihan tersebut sangatlah menarik. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) semester 5 ini mengungkapkan bahwa kegiatan yang dilakukan tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.

“Benar-benar studi yang menarik, saya tidak mendapatkan di perkuliahan dan sangat bermanfaat. Paling  tidak  buat lingkungan sendiri. Mencoba menganalisis apa yang terjadi di sekitar dan mencoba untuk membantu mencari solusi, memperjuangkan hak-hak juga,” pungkasnya.

Apapun hasilnya, harapan dari kegiatan tersebut, mahasiswa dapat terbuka jiwa dan raganya untuk dekat dengan masyarakat, mengaplikasikan ilmunya untuk kemakmuran masyarakat.

“Tidak terpaku dengan egoisme akademik dan individualisme serta mau memperhatikan dan mengawal permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat untuk keutuhan masyarakat yang makmur, bangsa yang jaya serta merdeka,” jelas Imam

Dimuat di:

http://infomahasiswa.umk.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=940:pelatihan-analisis-sosial-agar-mahasiswa-kritis&catid=955:pelatihan-analisis-sosial-agar-mahasiswa-kritis&Itemid=1